|
Jumat, 19 September 2008 |
Panser 6x6 VAB versi Pindad (Kijang Kapsulnya Panser) |
Pembuatan panser 6x6 APS (angkut personel sedang) pada awalnya merupakan perintah Panglima TNI Endriartono Sutarto pada Oktober 2005 ketika prototipe pertamanya baru saja selesai. Saat itu, Endriartono menyatakan panser buatan Pindad tak perlu diragukan lagi, hanya perlu penyempurnaan. Namun, kelanjutan proses persetujuannya baru disetujui oleh working group TNI dan tim pokja TNI AD pada 4 Agustus lalu. Pindad hanya diberi waktu dua bulan untuk mengerjakan empat prototipe agar ketampanan sosok gagah sang Sangkuriang bisa dipamerkan di Cilangkap saat upacara HUT ke-61 TNI. Tak pelak lagi, empat divisi Pindad di Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, terpaksa bekerja siang malam berusaha keras menyelesaikannya dengan komponennya nyaris 100 persen merupakan produk dalam negeri. Untunglah, saat ini ‘tidak ada lagi’ sosok Dayang Sumbi yang suka melakukan ritual doa kepada dewata agar matahari terbit lebih awal sehingga Pindad bisa memenuhi janjinya kepada TNI. Please…, usir jauh-jauh si-Dayang Sumbi itu, agar tak mampu mensabotase bulatnya tekad dalam memajukan produksi dalam negeri dan mendorong kemandirian alutsista angkatan perangnya Republik yang kita cintai ini. ***
Meminjam iklan Toyota, panser Sangkuriang buatan Pindad juga mengalami revolusi mirip dengan mobil terlaris di Tanah Air, Toyota Kijang.
Pada akhir 2003 Pindad membuat mobil lapis baja beroda empat berbasis truk Isuzu 3/4 (biasa dipakai Kopaja dan Metromini) yang diberi nama APR-1 V1 (angkut personel ringan). Bentuk APR-1 tak bisa dibilang tampan. Bisa disejajarkan dengan generasi pertama 'Kijang Doyok'. Namun 40 APR-1 sempat membuktikan ketangguhannya dalam darurat militer di Aceh selama 2004. Dengan sasis yang sama, Pindad membuat APR-2, minibus lapis baja untuk Polri.
Pada 2005, untuk pertama kali dikembangkan panser 6x6, yaitu APS-1 V1 (angkut personel sedang) dan APS. Keduanya merupakan kendaraan identik yang memakai sasis truk 5 ton Perkasa dari Texmaco. Bedanya, APS hanya mempunyai satu kabin depan untuk pengemudi. Dua pasang roda belakang APS-1 dan APS mengelompok terpisah dari sepasang roda depan (asimetris). Lebih mirip truk berlapis baja daripada panser. Seumpama Kijang, APS-1 bisa diumpamakan generasi ‘Kijang Super’.
APS mempunyai keunikan dengan dua pintu geser samping untuk penumpang, selain pintu belakang yang standar. Desain yang aneh untuk kendaraan tempur. Lebih cocok sebagai limusin lapis baja untuk mengangkut jenderal ke medan perang daripada sebuah kendaraan tempur. Anggap saja generasi ‘Kijang Kapsul’.
Tapi panser 6x6 seri nol kali ini benar-benar revolusi. Panser sejati dengan body monokok dan enam roda simetris yang mengelompok menjadi satu. Suspensi semua rodanya pun sudah independen. Posisi mesin tak lagi di kolong seperti truk, tapi sejajar kabin penumpang sehingga bisa dibuat versi amfibi.
Dalam dunia Kijang, Panser 6x6 ini ‘lebih maju daripada Kijang Innova’ yang belum berani meninggalkan sasis tangga (ladder frame).
Spesifikasi : - Berat kendaraan : 10.200 kg - Berat Tempur : 12.000 kg - suspensi : independen modular torsion bar - body : monokok, plat baja 8-10 mm - kaca : tahan peluru tebal 30-40 mm - mesin : Perkasa WD 615 260-300 hp - kecepatan maks : 120 km/jam di jalan raya - transmisi : manual (6 maju, 1 mundur) - pintu belakang : hidraulik dan manual
Beautiful Revolution, Republika, Senin, 09 Oktober 2006. *** SEOLAH anak-anak yang tengah bergembira menemukan mainan barunya, 10 prajurit pasukan pemelihara perdamaian PBB asal Batalyon Kavaleri 7, Kodam Jaya, yang rencananya dikirim ke Lebanon akhir Oktober, tampak tersenyum-senyum sambil duduk-duduk berjajar di dalam kabin panser 6x6 produksi terbaru PT Pindad.
"Jauh lebih adem di dalam sini, mas, daripada di panser VAB yang biasa kami pakai dan rencananya juga dibawa ke Lebanon. Kalau ini kan ada tiga AC-nya. Sedangkan di panser kami cuma ada satu AC dan itu pun jenis yang biasa dipakai di rumah-rumah," ujar salah seorang prajurit sambil nyengir.
Dua panser jenis VAB milik Yonkav-7 kodam Jaya memang tampak terparkir tidak jauh dari panser PT Pindad itu. Kedua panser tadi adalah bagian dari 14 unit panser VAB yang dibeli tahun 1997 lalu. Beberapa personel pasukan Yonkav-7 yang kali itu mengenakan helm baja warna biru PBB tampak berjalan mendekat dengan raut wajah menunjukkan ketertarikan.
Upacara peringatan hari jadi ke-61 Tentara Nasional Indonesia, yang digelar secara sederhana dan tanpa diikuti gelar parade pasukan maupun persenjataan, Kamis (5/10) kali ini tampaknya ikut berdampak pada rencana PT Pindad memamerkan teknologi kendaraan tempur terbarunya, Panser 6x6 PT Pindad.
Sebanyak empat unit (prototipe) kendaraan tempur produksi dalam negeri, yang konon dibanggakan tidak kalah hebat jika dibandingkan dengan panser-panser sejenis seperti VAB (Vehicule de l'Avant Blinde) buatan Renault Trucks, Perancis, tersebut nyaris luput dari perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pihak protokoler Istana Kepresidenan tampaknya tidak mengagendakan Presiden untuk sekadar singgah dan melongok hasil produksi anak bangsa, yang menurut Direktur Produk Purboyo sengaja dikebut pembuatannya dalam dua bulan untuk bisa dipamerkan di momen peringatan HUT TNI itu.
"Tadi waktu baru datang, Presiden hanya sempat lewat dan melongok dari kaca jendela mobilnya keempat panser kami yang diparkir di sini. Saat lewat Presiden memelankan laju kendaraannya," ujar Direktur Produk Militer PT Pindad Pentadi Purbo saat berbincang-bincang dengan wartawan di kabin personel panser, yang memang terasa sejuk walau udara di luar panas menyengat di siang hari itu.
Menurut Purbo, pihaknya bersama-sama sekitar 20 perusahaan industri dalam negeri lain, yang memang sengaja diundang sejak awal untuk ikut terlibat, sudah "berjibaku" siang malam menuntaskan pekerjaan membangun panser jenis Angkut Personel Sedang (APS) itu. Rencananya untuk memenuhi target rencana men-display keempat unit panser tadi pada upacara HUT ke-61 TNI.
Terhitung proses itu dilakukan dua bulan dari disetujuinya pembakuan disain rancang bangun panser 6x6 oleh tim kelompok kerja TNI pada 4 Agustus kemarin. Setelah disain disetujui baru lah mereka bias bekerja. Akan tetapi sayangnya kerja keras itu tidak mendapat tempat dan perlakuan yang layak pada kesempatan kali ini.
Keempat unit panser buatan anak bangsa, yang masing-masing berbobot mati sekitar 12 ton itu, bahkan diparkir lumayan jauh dari lokasi upacara peringatan HUT TNI, sekitar 500 meter di salah satu sisi ruas jalan masuk dan keluar Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur. Walau begitu Purbo tetap mengaku optimis karena saat ini pihaknya dan Markas Besar TNI Angkatan Darat telah menandatangani Letter of Intent (LoI) rencana kebutuhan panser 6x6 TNI-AD 2006-2009 sebanyak 100 unit. Mabes TNI-AD menurut dia sudah berkomitmen membeli panser-panser produksi PT Pindad tadi.
Rencananya, untuk tahun anggaran 2006 akan dibangun sebanyak 18 unit terlebih dahulu, termasuk empat unit, yang "luput" dari perhatian banyak pihak kali ini. Purbo yakin kesepakatan serupa juga dapat terjalin antara pihaknya dan dua matra angkatan lain.
Hal itu mengingat panser produksi PT Pindad sangat fleksibel dan dapat dirancang-bangun sesuai kebutuhan setiap kesatuan, seperti panser amfibi untuk pasukan Marinir, panser untuk keperluan ambulans, maupun panser yang mampu mengangkut senjata anti-serangan udara untuk kebutuhan TNI Angkatan Udara.
Selain kelebihan punya kemampuan dimodifikasi sesuai kebutuhan, kendaraan tempur panser 6x6 PT Pindad ini juga punya banyak kelebihan kompetitif lain. Beberapa di antaranya, kelebihan teknis bagian kokpit panser yang terkomputerisasi penuh (full-computerized).
Disain bagian kokpit panser juga memungkinkan setiap kru "pilot" panser dapat mengontrol gerak panser, tampilan layar-layar navigasi, peta, gambar CCD/TI, dan pemetaan taktis elektronis, yang jauh lebih lebar, serta pintu hidrolis pada bagian belakang panser, yang memungkinkan pergerakan keluar masuk pasukan menjadi lebih lincah.
Tidak cuma itu, di dalam panser ini persoalan kenyamanan juga diperhatikan. Caranya dengan memasang tiga unit penyejuk ruangan, masing-masing berkekuatan tiga PK, satu di bagian kabin pengemudi dan dua di bagian kabin personel.
Dengan begitu, walau terbilang 100 persen bagian tubuh terbuat dari bahan baja tebal, suasana di dalam panser tidak terasa panas sama sekali walau sinar matahari menyengat di luar sana. Tidak lupa juga yang terpenting, mesin penggerak panser diproduksi di dalam negeri, Perkasa WD 615 Diesel Cyl 260-300 HP, termasuk juga alat komunikasi HF dan VHF buatan PT LEN.
Selain kelebihan secara teknis, harga per unit panser ini menurut Purbo juga sangat kompetitif dan jauh lebih murah daripada panser sejenis buatan luar negeri. Menurut dia, harganya bisa mencapai 50 persen lebih murah. Hal itu karena kandungan lokal komponen-komponennya jauh lebih besar.
"Karena hampir semua proses pembuatan dan komponen panser diproduksi di dalam negeri, harganya bias jauh lebih murah. Selain itu proses perawatan dan perbaikannya juga tidak memakan anggaran besar karena dapat dilakukan di dalam negeri (PT Pindad)," tambah Purbo.
Walau luput dari perhatian Presiden, boleh jadi PT Pindad seharusnya tetap merasa bangga karena sejumlah prajurit dari Yonkav-7, yang secara riil bakal menjadi pengguna dan langsung merasakan segala kelebihan fitur-fitur fasilitas panser hasil produksi dalam negeri itu, langsung menyatakan apresiasi positif mereka.
Tidak ada pujian yang lebih berarti dari pujian tulus mereka yang tahu benar tentang apa yang akan disampaikan. Hal itu akan jauh lebih bermakna ketimbang sekadar pernyataan atau pidato-pidato formal. Membangun industri pertahanan dalam negeri memang memerlukan lebih dari sekadar tekad dan pidato bersemangat, komitmen riil jauh lebih diperlukan.
Panser Adem PT Pindad, Tak Kalah Dengan VAB Perancis, Kompas, Senin, 09 Oktober 2006. ***
Negosiasi pembelian 32 panser VAB (V‚hicule de l'Avant Blind‚) antara Departemen Pertahanan (Dephan) dengan Renault Trucks Defence, Prancis, yang dilangsungkan sejak 28 September lalu, hingga kini belum juga rampung. Padahal Dephan menjanjikan, pekan lalu dilakukan penandatanganan pembelian 32 panser untuk misi pasukan perdamaian PBB ke Lebanon (Unifil) itu.
Lupakan sejenak VAB. Tanpa banyak publikasi, empat prototipe panser buatan dalam negeri yang mirip VAB telah dirampungkan oleh PT Pindad dan dipajang di tengah-tengah jalan utama Mabes TNI Cilangkap saat upacara HUT TNI ke-61, Kamis (5/10).
Empat panser beroda enam (6x6) berkelir hijau loreng itu langsung menarik perhatian awak tiga panser VAB bercat putih dengan tulisan UN (United Nation/PBB) yang sedang melintas di Cilangkap. ''Wah, saya baru pertama kali melihat panser ini,'' ucap seorang komandan panser VAB dari Batalion Kavaleri 7 Kodam Jaya. Delapan anak buahnya tanpa ragu langsung memenuhi kabin penumpang yang cukup lega untuk 10 personel.
''Luasnya sih sama dengan VAB. Tapi di sini lebih adem. '' sahut serang prajurit. Terang saja, 14 panser VAB ketika dibeli dari Prancis pada 1997 dengan harga 700 ribu dolar AS, dalam kondisi kosong. Terpaksa dipasangi sendiri dengan satu pendingin ruangan (AC) rumah berkekuatan 1 PK. Sedangkan dalam kabin panser buatan Pindad paling baru, itu dijejali dengan tiga AC bus dengan total daya sembilan PK. Lumayan sejuk walau tetap belum bisa mendinginkan body baja yang panas tersengat mentari.
Produk panser 6x6 ini belum diberi nama, hanya inisial seri nol sebagai penanda basis untuk berbagai varian lanjutan.
Nyaris 100 persen komponennya produk dalam negeri sehingga Pindad berani mematok setengah harga dari panser buatan luar negeri, termasuk VAB tentunya.
Panser Pindad ini memang persis dengan VAB. Hanya saja, VAB koleksi TNI AD versi roda empat (4x4) yang lebih murah dari VAB versi 6x6. Di samping kiri panser 6x6 ini dilengkapi kubah terbuka (copula) yang bisa memutar 360 derajat untuk senapan mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm atau pelontar granat otomatis (AGL).
Pembuatannya merupakan perintah Panglima TNI Endriartono Sutarto pada Oktober 2005 ketika prototipe pertama panser 6x6 APS (angkut personel sedang) selesai. Saat itu, Endriartono menyatakan panser buatan Pindad tak perlu diragukan lagi, hanya perlu penyempurnaan. Namun desain panser baru disetujui oleh working group TNI dan tim pokja TNI AD pada 4 Agustus lalu.
Pindad hanya diberi waktu dua bulan untuk mengerjakan empat prototipe agar bisa dipamerkan di Cilangkap saat upacara HUT ke-61 TNI Empat divisi Pindad di Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, terpaksa bekerja siang malam. Demikian pula dengan 20 subkontraktor lokal lain, termasuk PT LEN yang memasok radio HF dan VHF serta Texmaco untuk mesin diesel enam silinder.
''Anak buah saya sering tak tidur. Mereka bilang, Sangkuriang saja tak akan bisa buat yang seperti ini,'' kata Direktur Produk Militer Pindad, Pentadi Purboyono. Tamu-tamu Pindad dari luar negeri pun meragukan. Normalnya, satu prototipe dibangun dalam setahun.
Dalam legenda, dongeng Sangkuriang yang hendak melamar ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi, diberi syarat membangun bendungan dan perahu hanya dalam waktu satu malam. Walau dibantu ribuan siluman, Sangkuriang gagal karena kehabisan waktu. Perahu buatannya pun ditendang dan 'menjelma' menjadi Gunung Tangkuban Parahu di utara Kota Bandung.
Untung ‘tidak ada lagi’ Dayang Sumbi yang berdoa kepada dewata agar matahari terbit lebih awal sehingga Pindad bisa memenuhi janjinya kepada TNI. Walau beberapa protipe yang dibawa ke Cilangkap masih ada yang belum selesai, alias isinya masih kosong.
Pindad pun optimistis tak akan bernasib seperti Sangkuriang yang dikutuk dan lenyap ditelan bumi. TNI pun puas dan menjanjikan pesanan 100 panser untuk TNI AD hingga 2009. Pesanan angkatan lain dipastikan segera menyusul.
Kini, tinggal uji coba dan menyiapkan berbagai versi lanjutan seperti ambulans, komando, kanon, artileri medan, zeni, recovery vehicle, artileri pertahanan udara untuk Paskhas TNI AU, amfibi untuk Marinir, dan tak lupa kendaraan perang nubika (nuklir, biologi, kimia).
Lupakan Panser VAB Prancis, Tengok 'Sangkuriang' Pindad, Republika, Senin, 09 Oktober 2006. |
posted by kholifaur @ 21.37 |
|
|
|
Palapa Oath (General Gadjah Mada):
Sira Gadjah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa,
sira Gadjah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti
palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura,
ring Haru, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik,
samana isun amukti palapa"
That was He Gadjah Mada General of Mangkubhumi wouldn't
have broken the fast. He Gadjah Mada, "Had I conquered
the archipelago, then I'd have broken the fast, Had I
conquered Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang,
Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, by then, I'd
have broken the fast"
|
|