Sabtu, 10 Oktober 2009
Pesawat tempur bermesin jet generasi pertama
gbr 1. Dassault Ouragan

Telah menjadi hal yang umum dalam komunitas penerbangan dengan mengklasifikasikan jet tempur dengan istilah “Generasi” tidak lain adalah untuk tujuan sejarah. Memang tidak terdapat definisi yang resmi mengenai penggenerasian jet tempur; lebih lanjut, hal ini semata-mata untuk mengetahui lebih mudah bahwa pengembangan mereka adalah berjenjang dengan pendekatan desain, kemampuan tempur, dan perubahan teknologi.

Kerangka waktu yang diasosiasikan dengan setiap “Generasi” adalah kurang tepat dan hanya berupa indikasi suatu periode dimana filosofi desain dan penerapan teknologi dipengaruhi oleh desain pesawat tempur dan pengembangannya. Kerangka waktu ini juga meliputi periode puncak pada saat pesawat tersebut masuk masa tugas.

Jet tempur subsonik generasi pertama (pertengahan 1940 s/d pertengahan 1950)

Generasi pertama jet tempur merupakan sebuah inisial, desain jet tempur subsonik diperkenalkan pada akhir masa perang dunia II dan pada periode awal pasca perang. Mereka berbeda sedikit dari rekannya pesawat bermesin piston dalam penampilannya, dan banyak diantaranya yang bersayap tidak berlekuk (unswept). Senapan merupakan persenjataan utama. Dorongan pengembangan pesawat bermesin turbojet menyisakan keuntungan yang kurang berarti dalam hal kecepatan maksimalnya. Top speed pesawat tempur ini peningkatannya kurang begitu berarti selama masa perang dunia II oleh karena adanya pengembangan mesin piston yang lebih bertenaga, dan mulai memasuki rejim penerbangan transonik dimana efisiensi mesin piston berpropeller (baling-baling) menurun secara pasti.

gbr 2. F-3D Skynight

Pesawat bermesin jet pertama dikembangkan selama masa perang dunia II dan terlihat berperang dua tahun menjelang akhir periode ini. Messerschmitt mengembangkan jet tempur pertama yang siap beroperasi, yaitu Me-262. Pesawat ini diperkirakan lebih cepat dibandingkan pesawat bermesin sejenis yang paling mutakhir, dan ditangan pilot yang berkompeten, cukup sulit bagi pilot tentara sekutu untuk menaklukannya. Desainnya tidak begitu banyak dikembangkan, namun cukuplah untuk menghentikan kampanye udara tentara sekutu, dan kombinasi dari kekurangan bahan bakar, kehilangan pilot, dan kesulitan teknis dengan mesin membuat serangan secara tiba-tiba menjadi rendah. Bagaimanapun juga, Me-262 mengindikasikan kelemahan pesawat bermesin piston. Didorong oleh laporan mengenai adanya jet tempur buatan Jerman, Gloster Meteor buatan Inggris mulai diproduksi segera setelah 2 pesawat sejenis masuk masa tugas pada sekitar masa yang sama di tahun 1944. Meteor umumnya digunakan untuk menghalau pesawat V-1 “Buzz Bomb”, oleh karena pesawat ini terbang lebih cepat daripada pesawat bermesin piston lainnya. Menjelang akhir perang dunia II hampir semua produksi pesawat tempur bermesin piston dihentikan. Beberapa desain pesawat yang mengkombinasikan mesin piston dan jet untuk propulsinya (pendorong) – seperti Ryan FR Fireball – terdapat laporan ada beberapa yang digunakan, tetapi menjelang akhir 1940 sebenarnya semua jenis pesawat tempur telah bermesin jet.

gbr 3. F-89 Scorpion

Terlepas dari kelebihannya, pesawat tempur generasi pertama sangatlah jauh dari sempurna, terutama pada masa-masa awal generasi pertama. Masa awal operasionalnya dapat diukur dalam hitungan jam; mesinnya sendiri mudah pecah dan terlalu masif, dan tenaganya hanya dapat diatur secara perlahan. Banyak skuadron pesawat bermesin piston bertahan hingga awal dan pertengahan tahun 50an, bahkan dalam angkatan udara dengan kekuatan utama (walaupun tipenya dipertahankan, namun merupakan desain yang terbaik di era perang dunia II). Inovasi berupa kursi lontar dan ekor pesawat yang all-moving diperkenalkan pada periode ini.

gbr 4. He-162

Amerika adalah salah satu yang pertama untuk mulai menggunakan jet tempur pada periode pasca perang. Lockheed P-80 Shooting Star (segera di desain kembali menjadi F-80) nampak kurang elegan dibandingkan dengan Me-262 yang memiliki sayap lekuk, tetapi pesawat ini memiliki kecepatan jelajah 660 km/jam atau 410 mil/jam, sama cepatnya dengan top speed pesawat bermesin piston pada umumnya. Inggris kemudian mendesain beberapa jet tempur baru, termasuk yang menjadi icon pada saat itu de Havilland Vampire yang banyak dijual ke beberapa negara.

gbr 5. Supermarine Attacker

Ironisnya, Inggris melakukan alih teknologi mesin jet Rolls-Royce Nene kepada Soviet yang segera mengaplikasikannya menjadi pesawat tempur canggih Mikoyan-Gurevich MiG-15. Pesawat ini menerapkan sayap lekuk dalam pertempurannya, suatu penemuan yang pertama kali diajukan oleh peneliti Jerman yang memungkinkan terbang pada kecepatan yang lebih dekat dengan kecepatan suara dibandingkan dengan desain sayap lurus seperti yang diterapkan pada F-80. Top speed Mig-15 yang mampu mencapai 1.075 km/jam (668 mph) cukup membuat shock terapi bagi pilot F-80 Amerika yang menyergap MiG-15 di semenanjung Korea, bersama dengan persenjataan mereka berupa dua buah kanon 23 mm dan satu buah kanon 37 mm yang dibandingkan dengan senapan mesin. Bagaimanapun juga, dog fight jet tempur vs jet tempur pertama dalam sejarah yang berlangsung di selama perang Korea pada 8 November 1950, sebuah F-80 menghalau 2 buah MiG-15 Korea Utara dekat Sungai Yalu dan menembak jatuh kedua pesawat tersebut.

gbr 6. Saab 29 Tunnan

Amerika merespon dengan segera membentuk skuadron sayap lekuk F-86 untuk bertempur melawan MiG yang memiliki kesamaan kecepatan transonik. Kedua jenis pesawat tersebut memiliki kekuatan yang berbeda, tetapi memiliki cukup kesamaan sehingga teknologi yang canggih seperti radar ranging gunsight dan kemampuan veteran pilot Angkatan Udara Amerika Serikat mengakui keberadaan MiG-15.

gbr 7. Yak 15/17 Feather

Angkatan laut di beberapa negara di dunia juga melakukan transisi pesawat tempurnya menjadi bermesin jet selama periode ini, sehingga diperlukan catapult-launching (ketapel untuk menarik pesawat saat take off dari kapal induk) untuk jenis pesawat yang mendarat di kapal induk. Seperti Grumman F9F Panther yang diadopsi oleh AL Amerika Serikat sebagai jet tempur utama pada periode Perang Korea, dan pesawat ini merupakan yang pertama yang dapat melakukan afterburner. De Havilland Sea Vampire merupakan pesawat tempur pertama AL Inggris. Radar digunakan pada pesawat yang diterbangkan khusus diwaktu malam, seperti F3D Skynight yang juga menembak jatuh MiG saat Perang Korea, dan kemudian semakin disempurnakan oleh hadirnya F2H Banshee dan F7U Cutlass yang bersayap lekuk serta F3H Demon sebagai pesawat tempur malam segala cuaca. Versi awal Infra Red Air to Air Missile seperti AIM-9 Sidewinder dan rudal berpemandu radar seperti AIM-7 Sparrow yang sedang dikembangkan saat ini awalnya diperkenalkan pada jet tempur subsonik sayap lekuk Demon dan Cutlass versi AL.

gbr 8. CF-100 Cannuck

Berikut beberapa pesawat tempur yang dapat dikategorikan generasi pertama berdasarkan negara asal:
1. Kanada
a. Avro CF-100 Canuck
2. Perancis
a. Dassault Ouragen
b. Dassault Mystere
c. Dassault Mystere IV
3. Nazi Jerman
a. Messerschmitt Me-262
b. Heinkel He-162
4. RRC
a. Shenyang J-5 “Fresco”
5. Swedia
a. Saab 21R
b. Saab 29 Tunnan
6. Uni Soviet
a. MiG-9 Fargo
b. MiG-15 Fagot
c. MiG-17 Fresco
d. Lavochkin La-15 Fantail
e. Yakovlev Yak-15/17 Feather
f. Yakovlev Yak-23 Flora
g. Yakovlev Yak-25 Flashlight
7. United Kindom
a. De Havilland Vampire
b. De Havilland Venom
c. Gloster Meteor
d. Supermarine Attacker
8. USA
a. Bell P-59 Airacomet
b. Lockheed P-80 Shooting Star
c. Republic F-84 Thunderjet
d. Republic F-84F Thunderstreak
e. North American F-86 Sabre
f. Northrop F-89 Scorpion
g. Lockheed F-94 Starfire
h. North American FJ-1 Fury
i. North American FJ-2/3/4 Fury
j. McDonell F2H Banshee
k. McDonell F3H Demon
l. Douglas F3D Skynight
m. Douglas F4D Skyray
n. Vought V7U Cutlass
o. Grumman F9F Panther
posted by kholifaur @ 06.42  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
Palapa Oath (General Gadjah Mada): Sira Gadjah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gadjah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa" That was He Gadjah Mada General of Mangkubhumi wouldn't have broken the fast. He Gadjah Mada, "Had I conquered the archipelago, then I'd have broken the fast, Had I conquered Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, by then, I'd have broken the fast"
 
About Me

Name: kholifaur
Home: Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
About Me: Menyukai dunia militer dari segala aspek, perkembangannya baik di dalam dan luar negeri
See my complete profile
Previous Post
Archives
Free Blogger Templates